Dari Haryanka

Cahaya matahari berusaha memasuki kamarku melalui cela-cela gorden. Aku baru tahu bila sekarang telah pagi, padahal beberapa saat yang lalu masih pukul satu malam hari.

Aku terduduk lesu di pojok kamar sambil memeluk diri sendiri. Bagian depan bajuku telah basah karena air mata yang menetes dari sudut mata sejak semalam. Entah berapa liter air mata yang sudah kukeluarkan, namun, rasanya hati ini masih sangat sesak.

Bila orang lain tahu keadaanku seperti ini, mereka pasti akan bergunjing, “Laki-laki kok nangis, laki-laki tuh harus kuat.” Begitulah. Namun, saat ini aku sudah tak peduli lagi dengan ucapan orang lain, hatiku sudah terlanjur sesak setengah mati. Masih bertahan pagi ini saja menjadi sebuah anugrah terbesar yang Tuhan berikan untukku.

Beberapa kali aku memukul dadaku sekuat tenaga untuk menguatkan diri sendiri, tetapi, bukannya berhenti, aku malah makin terasa sesak. Kepalaku sangat pusing, aku memilih untuk membenturkannya ke lantai untuk mengurangi rasa sakit itu, namun, sialnya tatapanku menjadi makin berkunang-kunang. Mataku sudah tak dapat lagi terbuka dengan sempurna karena sembab akibat air mata.

Lalu, telingaku menangkap suara kenop pintu yang terbuka. Mama ada di depan sana sambil menatapku dengan tatapan terluka. Ia segera menghampiri, lalu memelukku dengan tubuh ringkihnya. Ia memelukku dengan sangat kencang sambil mengusap punggungku dengan lembut. Air matanya ikut menetes, sama sepertiku.

“Raka, sudah ya, Nak.” Mama berujar menenangkanku. “Diikhlaskan saja ya. Terima kasih kepada Tuhan karena ia sudah membantu kamu menyeleksi sosok yang nantinya menjadi teman hidupmu.” Bukannya tenang, air mataku makin menetes deras.

Hari ini, Nathalie pergi meninggalkan aku sendirian di jalanan penuh duri dan paku. Ia mempertanggungjawabkan segala perbuatan buruknya bersama dengan sahabatku, Samudra. Mereka menikah hari ini.

Orang tua, teman, dan orang lain telah memberikan berbagai nasihat padaku. Inti yang mereka katakan sama, menyuruhku mengikhlaskan Nathalie. Mereka kompak mengatakan bahwa Nathalie bukanlah sosok perempuan yang baik untuk dijadikan pasangan karena ia berani bermain api bersama dengan sahabatku sendiri. Fakta itu membuatku tidak terima.

Katakanlah bahwa aku jatuh terlalu dalam pada gadis bernama Nathalie itu, memang demikian kenyataannya. Aku terlalu buta dengan cinta hingga tak bisa memberi cap buruk padanya.

Nathalie merupakan sosok yang baik, menyenangkan, cantik, dan juga sempurna, namun, mengapa malah Samudra yang memilikinya? Mengapa bukan aku? Aku tidak terima! Tetapi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Ini penyesalan terbesarku, mengapa aku tidak bisa memilikimu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Mengapa Nathalie tega? Mengapa Samudra bisa sejahat itu? Apa aku memiliki kesalahan pada mereka?

Aku memukul kepalaku dengan kedua telapak tangan yang tergenggam. Mama yang melihat hal itu langsung berusaha menghentikan, namun, tenaganya kalah kuat denganku. Kemudian, ia berteriak memanggil papa. Pria yang berstatus sebagai ayahku itu pun segera menghampiri dan menenangkan aku.

“Raka, sudah ya.” Pria itu menahan kedua lenganku dengan sekuat tenaga. “Tenang, Nak. Semuanya bakalan baik-baik aja.” Aku melemah, air mataku perlahan terhenti. Aku menarik napas dalam-dalam untuk mengatur pernapasanku yang tak teratur.

“Raka, dengarkan Papa.” Pria itu menakup wajahku dengan tangan keriputnya. “Semuanya bakalan baik-baik aja. Pada awalnya memang sakit dan nggak teratur, tapi, nanti semuanya pasti bakalan kembali ke sedia kala,” kata papa. “Nathalie salah, dia sudah mengkhianati kamu, begitu juga dengan Samudra. Biarkan saja mereka, nggak perlu ditangisi orang-orang seperti itu. Terima kasih pada Tuhan karena ia telah membantu kamu dalam menyeleksi pasangan hidup. Kamu masih muda Raka, hidupmu masih panjang, orang akan datang dan pergi silih berganti. Mungkin Nathalie hanya orang yang sekedar lewat, bukan untuk menentap. Nggak perlu ditangisi. Tuhan pasti akan memberi yang terbaik untuk kamu.”

Pagi itu, semuanya sangat sesak. Ruangan, kepala, dan hati kompak menghimpitku satu sama lain. Namun, setidaknya di tengah sesaknya keadaan, mama dan papa datang sebagai lilin yang membuatku tetap terjaga hangat dan tak berada dalam kegelapan.